SOMETHING IS HIDING OUTSIDE THE WINDOW part1
*based on a true story*
Malam ini tepat pukul satu lewat empat puluh tujuh menit dini hari, hari Selasa tanggal dua puluh sembilan bulan May tahun dua ribu dua belas.
Aku tidak ingat persisnya sudah berapa hari atau bahkan berapa minggu aku mengganti arah meja komputerku. Tapi yang jelas belum lebih dari hitungan bulan.
Ya, aku baru saja mengganti si abu-abu tua yang sudah usang itu dengan si coklat muda yang tentunya lebih sehat, lebih kuat, dan lebih luas. Ehem..
Aku senang karena si coklat muda ini membuat kamarku nampak lebih luas. Aku pun kini punya space dua jengkal untuk menaruh buku catatan, minuman, bahkan piring makanku. Apapun itu, segala pernak pernik kini dapat dengan leluasa berbaring di depan mataku.
Tapi tapi..apa kau tahu bahwa kini posisi duduk ku bersama si komputer ini ikut berubah pula? Tahukah kau kini aku menghadap kemana? Tahukah kau ada apa di balik punggung ku?
Baiklah akan ku jelaskan perlahan-lahan:
- Pintu kamarku berada di sebelah kananku saat ini.
- Ada sebuah lemari kecil menempel di tembok tempat …. (aku menyebutnya rongsokan random. oh jangan tanya apa istilah itu, aku malas membahasnya) tepat di sisi kiri pintu. Permukaan lemari itu telah aku permak menjadi sangat rapi dan bersih dibandingkan sebelumnya. Tas kamera, kertas printing, tempat CD kosong, stop kontak, dan modem berbaris rapi tak berdebu (belum, maksudnya).
- Di belakang ku ada sebuah tempat tidur yang didesign untuk dua orang, dengan dua bantal kepala dan satu bantal guling serta dua boneka sapi bulat di atasnya.
Sejak kehadiran meja komputer baru ini aku memang sengaja mengubah posisi duduk ku menghadap tembok dan memunggungi tempat tidurku, padahal sebelumnya aku duduk menghadap ke pintu dan memunggungi tembok. Tujuannya agar setiap orang yang masuk kamarku tak dapat melihat aktivitas ku bersama sang komputer.
Menurut mu, sejauh ini semuanya tampak normal bukan?
Tapi tahukah kamu bahwa masih ada sesuatu lagi di balik punggung ku?
Ya, JENDELA.
Jendela itu tepat berada di sebelah kiri tempat tidurku.
Sudah cukup lama jendela itu selalu tertutupi oleh gorden, karena aku terlalu takut untuk menyibaknya. Aku takut akan sesuatu yang mungkin saja tiba-tiba muncul dibalik jendela ku.
Ah mungkin kau menganggap aku cemen, cupu, penakut, atau apalah namanya. Atau mungkin ini hanya efek karena terlalu sering menonton film-film horor, sehingga mampus mem-brainwashed otakku. Aku tak peduli, rasa takut ini mengalahkan segala rasa takut akan dicemooh orang-orang.
Tapi ini sungguh.
Tolong dengarkan dulu sekiranya sedikit kisah ku ini.
Akan kulanjutkan keesokan hari, karena aku harus segera mencetak keluar bab satu, bab dua, dan bab tiga ku. Aku sedang dalam proses pembuatan skripsi dan esok sore aku harus bertemu dengan dosen pembimbingku.
Kali ini aku mengizinkan mu berspekulasi bahwa aku terlalu ketakutan saat ini hingga tak mampu melanjutkan cerita ini.
-TO BE CONTINUED-
@11 months ago#story #storiette