SEPENUHNYA FIKSI

Aku bisa bilang apa ketika dia datang tuk menyapa ku

Aku sampai tak kuasa bergerak ketika dia ada di dekat ku

Aku bahkan tak bisa menolak ketika dia menawarkan ku sandaran

Aku pun tak bisa menjauh ketika dia memberikan ku kehangatan

Aku pun pasrah dan membiarkan diriku memeluk erat dirinya

Terima kasih kepada dirinya yang selama ini telah mengisi setiap ruang dan waktu ku

Dialah si bantal, guling, dan selimutku

@4 days ago

SIBUK

Malam ini aku terlalu sibuk menatap lembaran kertas A4 kosong di depan ku, belum lagi pantulan putih dari layar MacBook Air ku yang juga sekilas nampak kosong. Ya, kosong. Aku sedang dalam keadaan dikejar-kejar deadline untuk menuliskan script untuk sebuah film layar lebar yang hendak diproduksi oleh seorang produser kacangan. Mungkin aku terlalu meremehkan produser itu, sehingga aku malas ketika diajak bekerja sama dengannya.

Untuk seorang penulis professional seperti ku, mustahil rasanya berurusan dengan orang-orang yang belum memiliki nama di industri perfilman maupun di dunia entertainment. Sombong memang, karena begitulah biasanya orang-orang mengenalku. Kepribadianku yang koleris namun sanguinis, pemikiranku yang cerdas, hingga perawakanku yang berkharisma seolah menutupi keangkuhan sifat ku yang tergambar jelas dari watak ku yang keras dan nada bicara ku yang tegas.

Banyak production house yang mengejar-ngejar ku untuk bekerja sama dengan mereka; mulai dari meminta ku untuk menuliskan cerita layar lebar yang konon katanya ingin mereka bawa hingga ke dunia perfilman Hollywood, atau sekadar cerita lepas di televisi, bahkan ada yang menawari ku untuk menulis naskah sinetron yang panjangnya diperkirakan akan mengalahkan Tersanjung! Mereka pikir aku ini siapa. Tentu saja harga diriku terlalu tinggi untuk menuliskan cerita-cerita sinetron kacangan yang alur ceritanya saja berbelit-belit, dibuat-buat, dan dipaksakan.

Ah! Kalau saja aku tidak ingat produser itu adalah teman baik ku sedari kecil, mungkin aku tidak akan mengalami hal ini!

Udara di dalam ruangan berukuran 3x4 ini sungguh membuatku sesak. Tak henti-hentinya sedari tadi aku mencomot tissue hanya untuk mengelap peluh di pelipis ku yang terus menetes. Panas! Aku sudah tidak tahan lagi! Ku tengok remote AC yang tergeletak tak berdaya di sudut ruangan. Mungkin jika remote AC itu bernyawa, ia akan terbang balik ke arah ku dan menghantam kepalaku hingga benjol sambil berkata, “Rasakan pembalasan ku! Kau pikir tidak sakit di lempar sana lempar sini seenak jidat mu? Aku juga bisa rusak tahu!”. Mungkin kira-kira begitulah suara hari si remote AC yang teronggok di sudut.

AKhirnya ku putuskan untuk sedikit membuka jendela, dengan harapan akan ada hembusan angin semilir yang rela mampir sebentar ke kamar ku. Huft. Lumayan. Tengkuk ku serasa dingin, rasanya seperti ditiup oleh angin-angin kecil dari belakang. Segar. Aha! Tiba-tiba saja aku mendapatkan ide untuk tulisan ku berikutnya! Akupun mulai sibuk menuliskannya, tanpa menyadari jika di balik jendela ada sesosok perempuan berwajah pucat dengan rambut panjangnya sedang mengawasi ku. Layar Word ku yang didominasi warna putih ternyata tidak mampu menangkap pantulannnya.

Inilah naskah itu. Bagaimana? Tidak terlalu buruk kan?

@1 week ago

NO IDENTITY

Ceritanya (entah kenapa dari kemaren-kemaren gue lagi kepengen cerita-cerita), gue baru aja nge-ganti judul tumblr gue (ya gue, masa tumblr orang laen).

Judulnya dari RANDOMAZINGLY ke NO IDENTITY.

Kenapa bisa begitu?

Awalnya sih harapan gue pakek nama RANDOMAZINGLY (harus capslok gini yak nulisnya?) tuh harap-harap cemas itu singkatan dari kata random dan amazing, yang maksudnya isi tumblr gue campur-campur tapi tetep mengagumkan layaknya sebuah mahakarya (uhuk). Maksud hati ingin memeluk gunung tapi apa daya mendaki gunung pun tubuhku tak sanggup (hiks), kaga ada amazing-amazingnya.

Jadilah gue ganti namanya ke NO IDENTITY, yang maksudnya emang gak ada identitas, mau nulis yang tipenya macem apapun gue bisa (edisi angkuh). Kecuali bikin dialog.

Selesai.

@2 weeks ago

The moment when you’re running nowhere to seek for nothing.

@2 weeks ago

"Tonight, I looked up to the sky and found the sky was black. But why, why you shed the rain? I even didn’t see you’re gloomy. All I ever see is black, a perfectly black-painted."

Rita Finola
@2 weeks ago
@1 week ago with 96592 notes

MALEM INI

Ada malamnya dimana mata loe sepet beud (idih najis alay banget bahasanya), tapi mata loe bandel banget kagak mau bersahabat sama pikiran buat bobok. Jadilah loe dan seluruh organ tubuh loe tetap terjaga dari matahari terbit hingga tenggelam. Pikiran loe juga terjaga tapi kosong, mungkin doi lagi jaga-jaga kali-kali ada hal-hal maksiat yang masup (menyusup masuk) secara tak terduga.

Selamat malam untuk Joglo (Jelambar-Grogol) dan sekitarnya.

@2 weeks ago

SEKEDAR CERITA

Sekelebat awan putih yang bermain-main di langit biru pada siang hari (iya jadi ceritnya gue tiap hari dateng ke kantor jam 11 -_-” ) mendadak berganti jingga dengan sedikit colongan tekstur ungu muda di sekitarnya (sukur bisa liat langit jingga, biasanya keluar kantor langit udah jadi item sih). —> Gimana nih udah oke belon cerita depannya? Cukup puitis ya kayak novel-novel semacam perahu kertas gitu kan, boleh dong gue jadi penulis novel juga (bukan salah bunda mengandung jika aku terlahir dengan banyak harapan, haelah).

Jadi, sekedar cerita aja sih. Beberapa hari kemarin dapet kerjaan bikin iklan radio di radio (ya kali aja ada iklan radio di majalah ato di tipi gitu). Kerjaan yang emang udah lama gue tunggu-tunggu kedatangannya bak menunggu tukang kembang tahu yang lewat di depan rumah (ya gimana lo tau tu abang lewat, secara lo jarang di rumah). Saking lamanya nunggu, gue sampe lupa (lupa sebenernya gue lagi cerita apaan sih nih?). Yak, sodara-sodara, kira-kira sudah setahun berapa bulan ku menunggu kehadirannya yang tak kunjung tampak (tetep gak jelas ini maksudnya nunggu si abang kembang tahu apa nunggu kerjaan bikin iklan radio?).

Hari ini feedback yang ketiga, catet, yang ketiga. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, hingga bulan berganti bulan (enggak sih ini lebay aja ceritanya padahal maksud gue sih cuma detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hingga lewatlah satu hari). Yak, sudah lewat satu hari. Tapi sialnya dari kemarin belom kepikiran mau nulis apa satupun, se-cuil-pun, se-upil-pun.

Oh tidaaaaakkkkk……… Bagaimana ini………

Perpaduan antara males dan firasat, berpadu menjadi satu dalam keharmonisan kehidupan ahensi.

Sekian. Makasih.

Salam,

Sekedar Cerita yang Gak Penting.

@2 weeks ago

The moment when soul and passion confederated into your artpiece.

@2 weeks ago

21 April 2013, 02:22am

Tetiba gue inget film Meteor Garden dimana salah satu adegannya nampilin si Hua Ce Lei ganteng (don’t blame me soalnya di kala itu doi tergolong ganteng dan digandrungi banyak abege, termasuk gue) lagi handstand dengan kepala di bawah (ya iya lah namanya juga lagi handstand) dihiasi rambutnya yang kala itu nampak kayak duren (berantakan keren). Gak lama San Cai dateng dan tanpa sempet nanya “Woy Lei, lo lagi pain sik?”, si Hua Cei Lei sambil sok-sok dingin misterius ngomong “Dulu, pernah ada seseorang yang ngajarin gue kalo lo pengen nangis, bediri tebalik aje biar aer mate lo kage tumpeh” (sumpah ngomongnya gak ke-betawi-betawian gini sih).

Nah! Jadi ceritanya hari ini tuh gue pengen nerapin tuh filosofi. Tapi berhubung gue kaga bisa handstand, jadinya gue cuman duduk di bangku sambil berpasrah buang kepala ke bawah belakang (nah loh gimane tuh, sumpah gue juga bingung gimana deskripsiin-nya pakek kata-kata). Daaannn…..ternyata oh ternyata Hua Ce Lei boong! Huaaaahuaaaa… Tu aer mata tetep aja tumpah ke kanan kiri bercecer bersama krim mata yang belom kering sempurna (ceritanya gaya mau pakek krim mata biar gak kayak panda).

Emang apaan sik yang terkandung di dalem aer mata gue?

Okeh deh, selamat malam dan selamat bobok untuk Pak BeYe dan sekitarnya.

@4 weeks ago with 1 note
#thought